Malang – Pepatah Jawa “Ajining dhiri ana ing lathi, ajining rogo soko busono” mengandung pesan mendalam dari para leluhur. Maknanya, seseorang dihargai berdasarkan tutur kata, komitmen pada janji, dan cara mereka berpakaian. Ungkapan ini tidak hanya berbicara tentang etika, tetapi juga mencerminkan cara seseorang membawa diri di tengah masyarakat.
Pesan ini menjadi relevan ketika saya dipertemukan dengan Mas Aris, pengusaha sukses asal Bandung yang memimpin bisnis fashion bernama Jack Army. Beliau adalah sosok yang kaya pengalaman, telah menjelajahi berbagai liku bisnis fashion, dan mampu menghadirkan produk yang mengikuti tren serta kebutuhan masyarakat.
Dalam diskusi kami, ada satu topik menarik yang cukup menggelitik—tentang tren pakaian ukuran jumbo yang dirancang khusus untuk bapak-bapak. Bahkan, untuk memasarkan produk ini, digunakan manekin yang bentuk tubuhnya tidak seperti biasa. Alih-alih six-pack, manekin tersebut justru menonjolkan “six months,” istilah yang mengacu pada bentuk tubuh yang sedikit membuncit.
Baca Juga: Amanah sebagai Kunci Kesuksesan, Inspirasi dari Pengalaman Ustadz Abdul Hadi
Mendengar hal ini, saya hanya bisa tersenyum sambil mengelus perut sendiri. Sindiran halus ini mengingatkan saya pada pentingnya menjaga kebugaran dan penampilan, baik untuk kesehatan maupun kepercayaan diri.
Namun, di balik candaan tersebut, ada pelajaran berharga yang dapat saya ambil. Bisnis fashion bukan hanya tentang pakaian, tetapi juga bagaimana memahami kebutuhan pasar, menciptakan produk yang relevan, dan memberikan rasa percaya diri kepada konsumen. Mas Aris membuktikan bahwa inovasi dan keberanian dalam menangkap peluang adalah kunci untuk bertahan di industri yang kompetitif.
Melalui pertemuan ini, saya semakin yakin bahwa kesuksesan bukan hanya soal hasil, tetapi juga tentang proses, belajar, dan adaptasi. Semoga pesan ini menginspirasi kita semua untuk terus berusaha memberikan yang terbaik, baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Jalin Silaturahmi dengan Bupati Bondowoso KH. Abdul Hamid Wahid