Saya sering kali memiliki kebiasaan yang membuat ibu saya, Ibu Dina, mengernyitkan dahi. Salah satunya adalah ketika saya mengambil es lilin yang dijual ibu, memasukkannya ke dalam baki, lalu membagikannya secara gratis kepada teman-teman. Saat cuaca panas terik, saya akan memanggil teman-teman untuk mengambil es tersebut. Ibu kadang menegur saya karena itu adalah dagangan yang seharusnya dijual, bukan dibagikan begitu saja. Namun, saya selalu berusaha mengganti es lilin tersebut dengan membelinya kembali menggunakan uang saya sendiri.
Saya tahu, mungkin ibu merasa sedikit jengkel ketika saya mengatakan, “Nanti saya bungkuskan lagi, Ma,” sebagai alasan untuk terus melakukan hal yang sama. Namun, di balik kebiasaan itu, ada rasa senang yang tak terkira melihat teman-teman menikmati es lilin bersama di tengah panasnya siang hari.
Kepedulian saya tidak berhenti pada es lilin. Ketika ada kegiatan belajar kelompok di rumah, saya sering kali memasak mie untuk teman-teman. Kami punya istilah “two in one,” yaitu memasak mie dengan satu porsi mie dan dua telur. Terkadang, jika yang datang sampai delapan orang, telur setengah kilogram pun habis untuk makan bersama. Ibu mungkin tidak pernah mempermasalahkan hal ini, meskipun saya melakukannya berulang kali. Bahkan, saat ibu mengajar di pagi hari, saya sering masuk ke kelas dan berkata, “Bu, two in one ya,” yang artinya saya ingin masak mie dan telur bersama teman-teman.
Baca juga part sebelumnya Part 24 : Sekapur Sirih Resep Keempat, Masa Kecil Saya: Tak Pernah Berhenti Berbuat Baik
Kebiasaan berbagi dan kepedulian ini, menurut ibu, membuat kepala sekolah saya, Pak Sahri, sangat menyayangi saya. Saya sering diminta untuk membuatkan kopi untuk Pak Sahri, dan karena sering membantu di sekolah, saya bahkan mendapatkan kaus seragam olahraga secara gratis. Ibu tetap berusaha membayar kaus tersebut, tetapi pihak sekolah mengembalikan uangnya. Saya selalu merasa beruntung bisa berada di lingkungan yang penuh kasih sayang dan perhatian.
Meski ibu mengajar di SDN Dabasa 6, sementara saya bersekolah di SDN Dabasah 1 yang berada di satu halaman yang sama, saya memilih untuk bersekolah di tempat yang berbeda karena ingin lebih bebas. Ibu memang dikenal sangat disiplin, dan saya ingin merasakan sedikit kelonggaran di sekolah.
Hingga kini, saya selalu berusaha untuk menjaga jiwa sosial yang sudah tertanam sejak kecil. Kepedulian terhadap keluarga juga menjadi prioritas utama. Saya masih sering mengirimkan bantuan kepada nenek, Cuplik Satarijah, yang turut membesarkan saya. Beberapa kerabat lainnya juga masih saya bantu. Saya percaya, sikap sosial ini adalah warisan berharga yang patut diteladani oleh siapa pun.
Masa kecil yang penuh kepedulian dan kasih sayang ini menjadi dasar dari setiap langkah yang saya ambil hingga hari ini. Saya selalu percaya bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kemampuan kita untuk berbagi dan membantu sesama. Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa pun yang membacanya, untuk selalu berbuat baik dan menjaga semangat kepedulian dalam setiap kesempatan.
Yang belum membaca part sebelumnya boleh nggih dari Part 1: Sekapur Sirih, Beban Menjadi Tantangan