Menu ||

Menu X

Part 22 : Sekapur Sirih Resep Ketiga, Hobi Nyanyi Roma Irama

Hobby Nyanyi Roma Irama

Sejak kecil, saya sudah menunjukkan ketertarikan yang kuat pada berbagai hobi. Selain selalu patuh dan berbakti kepada orang tua, saya juga memiliki minat besar dalam bernyanyi, kesenian hadrah, dan olahraga basket. Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika saya masih duduk di bangku SMP.

Pada suatu kesempatan, saya diminta untuk bernyanyi mewakili SMPN 1 Bondowoso dalam sebuah acara yang diadakan di Alun-alun kota.

Saat itu, saya memilih untuk membawakan lagu Rhoma Irama, seorang musisi legendaris yang sangat saya kagumi. Namun, ketika saya tampil di atas panggung, tidak semua penonton tampaknya suka dengan penampilan saya.

Sejumlah penonton yang berasal dari SMPN 4 Bondowoso bahkan melemparkan rumput ke arah saya. Kejadian ini memicu kericuhan antara teman-teman saya dari SMPN 1 dan para siswa dari SMPN 4.

Baca juga part sebelumnya Part 21 :Tidak Kuliah, Malah Memilih Menikah

Namun, yang unik adalah saya sama sekali tidak menyadari bahwa ada tawuran yang terjadi. Saya tetap melanjutkan penampilan saya dengan tenang dan langsung pulang setelahnya, tanpa mengetahui keributan yang terjadi di belakang saya.

Masa-masa SMP saya memang penuh dengan kenangan yang tak terlupakan. Salah satu cerita lain yang sering dikenang adalah ketika saya duduk di kelas 2 SMP.

Suatu hari, saat bel rapat para dewan guru berbunyi, guru kesenian kami, Pak Mobi, yang seharusnya mengajar di kelas saya, memberikan tugas untuk dikerjakan sebagai pengganti jam pelajaran yang kosong.

Namun, bukannya mengerjakan tugas, saya malah mengambil sapu dan menjadikannya gitar sambil bernyanyi di depan kelas. Saya sangat menikmati momen itu hingga lupa diri.

Celakanya, saat sedang asyik bernyanyi, saya tidak menyadari bahwa Pak Mobi datang dari belakang. Akibatnya, saya pun dipanggil ke ruang guru, dan ibu saya, Dina, ikut dipanggil untuk menemui guru kesenian tersebut. Sebagai hukuman, saya diminta untuk membuat alat peraga kesenian.

Meskipun begitu, hingga saat ini, Pak Mobi masih selalu mengenang kejadian itu. Setiap kali bertemu dengan ibu saya, beliau selalu bertanya, “Piye anakku Rendra?” dengan nada penuh kehangatan.

Cerita-cerita ini adalah bagian dari perjalanan hidup saya yang penuh warna. Meskipun pernah melakukan kesalahan, pengalaman-pengalaman ini memberikan banyak pelajaran berharga yang membentuk siapa saya saat ini. Saya selalu mengingat masa-masa itu dengan senyuman, dan merasa bersyukur atas setiap momen yang telah saya lalui.

Yang belum membaca part sebelumnya boleh nggih dari Part 1: Sekapur Sirih, Beban Menjadi Tantangan