Seberapa pun saya mengedepankan keinginanku, saya selalu meminta izin dan doa dari ibu saya untuk setiap hal baru yang akan saya kerjakan. Pada saat peresmian atau peletakan batu pertama wisata Taman Bumi Langit atau Malang Skyland di Karangploso, Kabupaten Malang, saya secara khusus meminta kepada ibu untuk mendoakan dan melakukan peletakan batu pertama.
Saya selalu memprioritaskan ibu. Misalnya, ketika orang tua berkunjung ke Malang, saya selalu mengantar mereka pulang sendiri ke Bondowoso.
Pada tahun 2012, ketika saya berencana naik haji, saya mendaftarkan lima orang: ibu Dina, mertua perempuan, nenek, istri, dan saya sendiri. Namun, saat hendak berangkat haji pada tahun 2016, mertua saya meninggal dunia dan dua minggu sebelum berangkat, istri saya hamil. Akhirnya, hanya tiga orang yang bisa berangkat, yaitu ibu Dina, nenek, dan saya sendiri.
Baca juga part sebelumnya Part 17 : Sekapur Sirih Resep Ketiga, Sempat Ikut Tes Penerbangan
Ketika hendak membeli warnet Prima Net, saya pulang menemui ibu Dina dan mengatakan butuh uang Rp600 juta. Ibu sempat menangis dan berkata, “Aduh nak, Rp600 juta dari mana, mau jual alun-alun nanti saya dipenjara.”
Ibu mengingatkan saya agar tidak bermimpi terlalu tinggi. Namun, seperti biasanya, jika saya sudah punya keinginan, saya akan memperjuangkannya hingga terwujud.
Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik. Saya kemudian membeli warnet dengan cara menggadaikannya ke bank atas nama saya, dan hasil dari warnet digunakan untuk membayar cicilan bank.
Meskipun memiliki keinginan kuat, saya tidak pernah bertindak aneh-aneh atau membantah perintah ibu. Apa pun yang diperintahkan, saya segera mungkin langsung melakukannya.
Bersambung……
Yang belum membaca part sebelumnya boleh nggih dari Part 1: Sekapur Sirih, Beban Menjadi Tantangan