Menu ||

Menu X

Part 16 : Sekapur Sirih Resep Ketiga, Kemauan Sekuat Baja Ibu Tetap Utama

Sekapur Sirih, Kemauan Sekuat Baja Ibu Tetap Utama

Ibuku selalu bilang bahwa aku punya kemauan yang sangat kuat, sekuat baja. Kalau aku menginginkan sesuatu, aku akan melakukan apa saja untuk mewujudkannya.

Salah satu contohnya adalah ketika aku ingin ikut les komputer saat masih SMP. Aku punya trik untuk membujuk ibu agar bisa belajar di kursusan yang bagus.

Waktu itu, biaya les komputer sangat beragam, ada yang Rp5 ribu, Rp10 ribu, dan Rp100 ribu. Tentu saja, biaya ini berpengaruh terhadap kecepatan menguasai materi. Aku tidak menunjukkan les yang biayanya Rp5 ribu kepada ibu. Sebaliknya, aku menunjukkan yang Rp10 ribu dan Rp100 ribu.

Lalu aku bilang ke ibu bahwa ikut les yang Rp10 ribu itu sulit paham dan butuh waktu lama. Sementara, yang Rp100 ribu cepat pintar karena satu komputer untuk satu orang sehingga bisa praktik langsung. Aku bilang, aku tidak mau yang Rp10 ribu, pokoknya harus ikut les yang Rp100 ribu.

Di tempat les termahal ini, aku hanya butuh dua minggu untuk bisa komputer karena memang kelasnya khusus. Padahal, uang Rp100 ribu saat itu terbilang sangat besar bagi ibu dengan gaji mengajar hanya Rp215 ribu, biaya les itu berarti separuh gaji ibu. Begitulah kalau sudah kemauanku, pokoknya harus terwujud.

Baca juga part sebelumnya Part 14 : Sekapur Sirih Resep Kedua, Menjadi Broker Trading

Kemauan lainku muncul ketika ingin masuk sekolah STM Telkom di Malang. Sekolah ini terbilang mahal saat itu. Di Bondowoso, SPP (BP3 saat itu) hanya sekitar Rp5 ribu untuk level SMA, tetapi di STM Telkom sudah Rp100 ribu. Aku bilang ke ibu, ini sudah harga mati, kalau sekolah di Bondowoso, aku bilang aku akan merokok.

Setelah lulus SMP, aku ingin masuk sekolah kejuruan dengan tujuan segera bekerja dan mendapatkan uang. Aku tidak punya keinginan untuk kuliah, pokoknya langsung kerja.

Walaupun begitu, ibu tetap menurutiku dengan satu syarat yaitu ibadahku harus konsisten selama ada di Malang. Bagi ibu, akhirat itu yang utama. Bila akhirat didahulukan, segala urusan dunia akan mengikuti.

Di awal sekolah STM Telkom sekitar tahun 1997, ibu hampir setiap pagi ke wartel (warung telepon) untuk membangunkan aku agar segera bangun dan salat subuh. Aku mematuhi apa yang disyaratkan oleh ibu.

Secara keuangan, ibu sadar kesulitan dengan gaji mengajar yang secukupnya, tetapi dia yakin bahwa Allah akan selalu memberikan pertolongan pada hambanya yang sungguh-sungguh. Ibu setiap malam berdoa pada Allah agar dimampukan dengan segala upaya yang dia kerjakan.

Aku pun berangkat dari Bondowoso menuju Malang. Aku tinggal sementara di salah satu teman ibu di kawasan Kampung Keramik Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru.

Bersambung……

Yang belum membaca part sebelumnya boleh nggih dari Part 1: Sekapur Sirih, Beban Menjadi Tantangan