Saya, Rendra Masdrajad Safaat, pria kelahiran Bondowoso, dengan nama panggilan Rendra dan adapula yang memanggil saya dengan sapaan Jiren. Saya berasal dari keluarga sederhana, ibu saya adalah guru SD dan ayah saya adalah sopir tangki minyak tanah.
Sejak masa SD dan SMP, setiap pulang sekolah saya beraktivitas membantu ibu saya untuk menambah pemasukan dengan membuat dan menjual beberapa produk antara lain adalah es lilin, manisan dari buah dan nasi goreng untuk dititipkan di kantin sekolah. Saya teringat, waktu masih kecil apabila saya ingin makan enak, saya menggunakan kesempatan menawarkan makanan ke murid-murid yang sedang les di ibu saya. Saya biasanya minta uang tambahan kepada ibu saya atas hasil saya berjualan untuk membeli makanan yang enak, biasanya saya beli ayam goreng. Karena pada setiap harinya, kami makan dengan menu yang sederhana yaitu hanya tahu/tempe dan kecap saja. Sehingga, untuk bisa makan enak saya perlu bekerja lebih keras.
Pada tahun 1997, ada salah satu teman dari Ibu saya yang anaknya lulus dari SMK Telkom Malang yang sukses dan memiliki gaji besar. Dari situlah, saya mencoba tes di SMK Telkom Malang. Dari 1200 yang mendaftar hanya diterima 120 siswa. Alhamdulillaah, saya di nyatakan diterima di SMK Telkom Malang. Waktu saya akan tes di SMK Telkom Malang, agar beban biaya perjalanan bisa berhemat maka saya berinisiatif mendekati teman saya yang memiliki mobil untuk mengikuti tes, dengan maksud agar bisa dapat ikut serta dengan mobilnya secara gratis.
Alhamdulillaah, waktu itu ada 7 (tujuh) orang yang berminat dan mengikuti tes di SMK Telkom Malang, di antar oleh salah satu orang tua temen saya yang memiliki mobil. Dari 7 orang teman saya yang berhasil diterima hanya 2 orang yaitu saya dan 1 orang teman saya. Dan teman saya yang punya mobil, hasil dari pengumuman di nyatakan tidak di terima.
Selama saya di SMK Telkom dari tahun 1997 sampai dengan tahun 2000, ibu saya sangat bersemangat untuk mendukung sekolah saya. Bahkan dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan, Ibu saya berusaha untuk memenuhi kebutuhan bulanan saya. Saya memahami bahwa yang ibu saya kirimkan setiap bulan jumlahnya hampir satu kali gaji yang diterima oleh Ibu Saya. Perjuangan dan rasa cinta ibu saya itu, memotivasi saya untuk mulai mencari tambahan pemasukan agar bisa segera mandiri dalam memenuhi kebutuhan selama saya merantau di Kota Malang. Sejak kelas dua SMK Telkom saya sudah memulai bisnis, mulai dari menawarkan diri untuk membantu fotocopy untuk teman-teman, membantu merakit komputer, serta jualan monitor ke beberapa toko komputer.
Pada masa sekolah banyak perusahaan yang datang ke sekolah diantaranya adalah Telkomsel, pada tahap seleksi pertama saya termasuk 20 orang yang dapat mengikuti tes tahap selanjutnya. Saya minta doa dan restu kepada ibu saya agar bisa diterima di Telkomsel. Dan saya merasa ini adalah jawaban atas doa saya agar bisa membahagiakan ibu dan keluarga saya. Namun, saat pengumuman 10 orang yang di terima di Telkomsel Jakarta, saya tidak termasuk yang di terima. Saya merasa jatuh, kecewa dan putus asa sekali.
Saya menggunakan kesempatan yang di berikan oleh pihak sekolah bahwa bagi yang belum mendapatkan pekerjaan setelah lulus dapat mengikuti program magang di PT Telkom Malang. Ada suatu kondisi di mana saat saya sudah lulus dari SMK Telkom, saya masih minta kiriman dari orang tua, sehingga sempat suatu saat orang tua saya bertanya mengapa sudah lulus SMK masih minta kiriman dari orang tua. Saya memahami bahwa ibu saya masih ada kewajiban untuk memenuhi kebutuhan untuk adik saya. Sejak itu saya terdorong untuk dapat segera mendapatkan pekerjaan dan mulai hidup secara mandiri. Saya mencoba melamar kerja ke berbagai perusahaan di kota Malang.
Saya meyakini bahwa setelah kesulitan akan datang kemudahan sebagaimana firman Allah SWT dalam Al- Qur’an Surat Al-Insyirah ayat 5-6:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya:
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Bersyukur, akhirnya saya dapat di terima kerja di Prima Net Malang, waktu itu saya mendapatkan gaji UMR yaitu Rp 325 ribu. Alhamdulillaah, akhirnya saya bisa mulai mandiri dan tidak lagi bergantung pada kiriman dari ibu saya lagi, Setiap mendapatkan gaji, saya menyisihkan sebagian gaji saya. Saya memiliki impian untuk bisa memberikan hadiah sebagai ungkapan terimakasih. Dari tabungan gaji yang saya sisihkan akhirnya saya bisa membelikan hadiah untuk ibu saya yaitu TV Kristal 21 inch. Saya menyadari bahwa pencapaian yang saya dapatkan tentu tidak lepas dari doa yang ibu panjatkan.
Momentum terbaik dalam perubahan hidup saya adalah pada tahun 2003, saat saya memutuskan untuk menikah. Waktu itu saya di kenalkan dengan seorang wanita yang bekerja di Mall Ramayana, bernama Mira Susaudah. Wanita yang saya nikahi adalah anak terakhir dari tujuh bersaudara. Alhamdulillah kakak-kakaknya sangat membantu kami. Awal rumah tangga, saya tinggal bersama mertua. Saya dan istri sama-sama bekerja, sehingga kami harus saling berbagi tugas untuk kegiatan harian. Bila istri saya masuk pagi, maka saya paginya membantu mencuci baju anak saya. Kondisi ekonomi saya waktu itu terbatas, bahkan untuk membeli popok saja saya tidak mampu, sehingga menggunakan bahan popok dari kain.
Saat saya mencuci popok anak pertama saya, saya membatin “Ya Allah…cukup di sini saja, saya ingin menyenangkan istri dan anak-anak saya. Bahwa saya harus bisa memberikan hidup yang lebih baik untuk mereka…ekonomi saya harus berubah”.
Saya menyadari bahwa dengan peran sebagai kepala keluarga, maka saya harus memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang semakin meningkat. Sebagaimana yang kita yakini bahwa Allah SWT telah memberikan rezeki kepada setiap makhluknya. Namun tentu rezeki itu tidak datang secara tiba-tiba. Sebaliknya, rezeki datang dari usaha yang kita lakukan secara sungguh-sungguh baik melalui bekerja maupun berbisnis.
Adapun jalan yang saya pilih untuk memenuhi kebutuhan hidup dan berbuat lebih banyak untuk orang-orang di sekeliling saya adalah dengan membangun bisnis. Saya terus berikhtiar mencari potensi-potensi yang lebih baik. Di tempat saya bekerja di Primat Net, ada salah satu pelanggan yang sering datang ke warnet, saya mencoba mendekati. Dari situ saya mulai terinspirasi untuk belajar programmer. Kemudian, saya berkolaborasi dengan teman masa sekolah saya untuk membuat programer. Dan alhamdulillaah hasil dari usaha ini, saya bisa memiliki rumah pertama saya di Tunggul Wulung.
Dalam rangka ikhtiar untuk mendapatkan pemasukan yang lebih banyak, saya pernah mencoba beberapa bisnis. Namun, saya merasa ada hal tidak berkah atas bisnis saya, karena uang yang saya dapatkan begitu cepat habis. Dari kondisi ini, saya menyadari bahwa saya harus memperbaiki niat dan tujuan saya dalam menjalankan bisnis yaitu untuk membawa kebaikan kepada orang- orang di sekitar saya dan menghadirkan Allah SWT dalam berbagai upaya dan perjuangan.
Seiring dengan berjalannnya waktu, suatu hari saya bisa membeli Prima Net 2 yang beralamat di jalan Borobudur Malang, yang saya dapatkan dari hasil bisnis trading. Alhamdulillaah…, dahulu saya pegawai warnet dan akhirnya punya warnet.
Pada tahun 2013, saya mulai berbisnis untuk menjadi agen property yaitu standproperty.com, yang merupakan cikal bakal lahirnya prima land group.
Kemudian mulai tahun 2015, saya mencoba memberanikan diri untuk mulai merintis bisnis di bidang properti syariah. Hampir 10 (sepuluh) tahun, saya menekuni bisnis di bidang properti. Dan alhamdulillah, satu per satu impian saya bisa mulai terwujud. Keberhasilan yang saya raih adalah karena pertolongan dan kemurahan rezeki dari Allah SWT.
Baca Juga: Tanggapi Aspirasi Paguyuban Angkot Malang terhadap Penolakan Operasional Trans Jatim