MALANG – Dalam rapat KUA-PPAS Hearing Dishub, saya menyampaikan kritik atas perubahan rencana pembangunan tempat parkir di kawasan Kayutangan Heritage. Dari rencana awal enam lantai, kini hanya akan dibangun tiga lantai. Menurut saya, perubahan ini menghambat potensi besar Kayutangan sebagai salah satu objek wisata unggulan yang dimiliki Kota Malang.
Bagi saya, Kayutangan seharusnya bisa dikembangkan menjadi ikon kota, bukan sekadar jalur bagi pejalan kaki biasa. Jika pembangunan parkir enam lantai bisa dikawal dengan baik dalam waktu satu atau dua tahun, ditambah pelebaran trotoar dan penguatan elemen visual kawasan, saya yakin kawasan ini bisa menjadi daya tarik baru. Tidak menutup kemungkinan, Kayutangan bisa seperti Hall of Fame yang ada di Las Vegas.
Kayutangan ini bisa menjadi wajah wisata Kota Malang, bukan hanya tempat orang berlalu-lalang. Kalau kita serius, pembangunan parkir, penataan kawasan, dan pelebaran trotoar sisi barat bisa direalisasikan. Kenapa tidak?
Saya melihat Kota Malang saat ini kalah pamor dibanding Kota Batu dan Kabupaten Malang dalam sektor pariwisata. Banyak wisatawan lebih memilih berkunjung ke daerah sekitar karena minimnya destinasi menonjol di pusat kota. Padahal, jika dikembangkan dengan tepat, Kota Malang punya potensi yang tidak kalah menarik sebagai tujuan wisata budaya dan sejarah.
Baca Juga: Soroti Fenomena 30 Siswa SMK Drop Out di Kota Malang
Menurut saya, Kayutangan adalah salah satu kawasan yang memiliki potensi besar bila dikelola secara serius. Saya mendorong agar Pemerintah Kota Malang tidak setengah hati dalam menata kawasan ini. Salah satu gagasan yang saya usulkan adalah menjadikan Kayutangan sebagai pusat pertunjukan dan perayaan budaya.
Kalau kawasan ini dikemas secara menarik, kita bisa undang artis, adakan seremoni, dan menciptakan daya tarik yang membuat masyarakat datang. Tapi tentu saja harus ada keseriusan dan anggaran yang memadai.
Saya juga menyoroti pentingnya peran petugas parkir sebagai wajah kota. Saya mengusulkan adanya standarisasi, baik dari segi seragam, sistem sapaan, hingga sistem penilaian seperti bintang satu hingga lima, lengkap dengan sistem reward dan punishment.
Pendampingan seperti ini bisa dimulai dari Kayutangan dan dikembangkan ke seluruh penjuru Kota Malang. Menurut saya, hal ini penting agar kesan pertama wisatawan terhadap Kota Malang dibentuk melalui pelayanan yang ramah dan profesional.
Ketika wisatawan datang dan merasa nyaman, ekonomi pun akan ikut berputar. Dan saya percaya, Kayutangan bisa menjadi awal yang baik untuk mendorong kebangkitan pariwisata Kota Malang.
Baca Juga: Apresiasi Tradisi Bersih Desa Tunggulwulung Sebagai Wujud Kebersamaan dan Pelestarian Budaya