Sebelum akhirnya memutuskan untuk mendaftar di STM Telkom, aku sempat mengikuti tes penerbangan di Lanud Abdul Rachman Saleh. Awalnya, aku diterima di sekolah penerbangan lebih dulu daripada di STM Telkom.
Ibu Dina bahkan sudah sempat membayar biaya sekolah penerbangan tersebut. Namun, kemudian datang pengumuman bahwa aku juga diterima di STM Telkom. Pada akhirnya, aku lebih memilih STM Telkom ketimbang penerbangan, meskipun ibu sudah membayar.
Saat itu, aku tidak berani mengatakan langsung pada ibu bahwa aku tidak jadi masuk sekolah penerbangan. Aku lebih memilih untuk mengatakannya pada ayah sambungku.
“Nggak jadi pak saya di penerbangan, kalau nanti saya terbang, terus jatuh saya mati. Nanti mama nggak punya anak lagi,” kata-kataku kepada ayah sambungku. Kata-kataku itu kemudian dikenang ibu sebagai alasan mengapa aku memilih STM Telkom.
Baca Juga: Tanggapi Aspirasi Paguyuban Angkot Malang terhadap Penolakan Operasional Trans Jatim
Biaya yang sudah dibayar untuk sekolah penerbangan sebesar Rp900 ribu hangus begitu saja. Sementara itu, biaya untuk masuk STM Telkom mencapai lebih dari Rp2 juta.
“Jadi ini sepuluh kali gaji saya, Rp250 ribu. Sementara yang di penerbangan sudah hangus,” ujar ibu. Akhirnya, beberapa seragam yang sudah didapat dari sekolah penerbangan dikembalikan lagi.
Ada cerita lain di balik keputusan ini yang mungkin aku sendiri tidak tahu. Saat mendaftar di STM Telkom, ternyata ibu juga secara diam-diam mendaftarkan aku ke SMAN 2 di Bondowoso.
Ibu khawatir jika aku tidak diterima di STM Telkom, aku akan kebingungan mencari sekolah. Ternyata, setelah aku diterima di STM Telkom, ibu harus mencabut ijazah dari SMAN 2 Bondowoso.
Saat itu, pihak sekolah marah karena banyak siswa yang sudah antre untuk masuk. Bahkan, ada yang berani menyogok agar bisa diterima.
“Bahkan ada yang berani nyogok, nah ini Rendra sudah diterima kok malah mengundurkan diri,” kenang ibu menceritakan kejadian tersebut. Akhirnya, ketika ibu mengambil ijazah itu, dia dikenai denda oleh pihak sekolah sebesar Rp53 ribu.
Keputusan untuk memilih STM Telkom ternyata membawa perjalanan hidupku ke arah yang berbeda. Meskipun ibu harus mengorbankan banyak hal, dukungannya yang tak tergoyahkan membuatku bisa meraih apa yang aku inginkan. Keberanian ibu untuk menghadapi tantangan dan memilih yang terbaik untukku, selalu menjadi inspirasi dan motivasi dalam setiap langkahku.
Baca Juga: Jalin Silaturahmi dengan Bupati Bondowoso KH. Abdul Hamid Wahid