Menu ||

Menu X

Part 14 : Sekapur Sirih Resep Kedua, Menjadi Broker Trading

Menjadi Broker Trading

Pada tahun 2008, teman saya, I Putu Sudiarta, atau yang biasa saya panggil Alex, datang menemui saya. Dia bekerja di Karya Duta, salah satu kantor Forex yang cukup besar di Malang saat itu.

Alex, seorang broker Forex, memperkenalkan saya pada bisnis yang katanya menjanjikan. Sebagai orang yang suka dengan hal-hal baru, saya tertarik dengan presentasinya dan memutuskan untuk mencobanya dengan modal Rp20 juta.

Alex bilang, dalam setahun uang tersebut bisa berlipat ganda menjadi ratusan juta rupiah di pasar uang. “Wuh keren ini, saya masukin Rp20 juta,” pikir saya.

Namun, ternyata dalam seminggu uang itu malah ludes, habis. Saya kaget, ini bisnis apa kok bisa sedahsyat itu. Karena penasaran, saya searching di internet tentang broker Forex.

Setelah mendapatkan informasi yang cukup, bukannya kapok dan berhenti karena uang puluhan juta ludes, saya malah ingin menjadi brokernya. Saya menemukan perusahaan di luar negeri yang tidak butuh modal besar untuk bisa ikut trading, artinya dengan uang kecil pun masih bisa trading.

Saya mencoba program tersebut dengan memodali Alex lagi yang dianggap jago trading dengan modal Rp5 juta. Tapi, setelah trading lagi, uang itu habis lagi. “Uh bisnis opo iki,” saya kembali terkejut.

Saya berpikir lagi, dulu waktu ikut MLM jadi pemain bukannya untung, malah uang habis, sementara saat jadi owner MLM Ayoarisan.com saya berhasil. Saya kemudian mencari cara bagaimana kalau menjadi owner dari bisnis trading tersebut.

Sejak itu, saya berusaha mempelajarinya dan membayangkan bisa membeli MetaTrader. Tetapi harganya yang mencapai satu miliar rupiah membuat saya tidak bisa membiayainya sendiri.

Saya keliling mencari investor tapi tidak dapat. “Siapa saya kok tiba-tiba butuh satu miliar untuk MetaTrader tahun 2009,” kenang saya saat itu.

Saya kemudian melamar menjadi IB (Introducing Broker) pada sebuah broker luar negeri untuk pasar Indonesia di tahun 2009. Saya membuka kantor sendiri di Jalan Telemoyo, Kota Malang, sembari mencari customer di Indonesia dan membantu deposit juga.

Dari situ, setelah mencari banyak customer, bonusnya terus meningkat. Apalagi deposit untuk perusahaan luar negeri tidak sebesar di Indonesia yang bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Dengan ratusan ribu rupiah saja di luar negeri sudah bisa deposit, ini sangat menguntungkan bagi saya. Dari hasil bisnis IB, saya bisa membeli Prima Net yang sebelumnya menjadi tempat saya bekerja.

Baca juga part sebelumnya Part 13 : Sekapur Sirih Resep Kedua, Money Game Ayoarisan.Com

Suatu kemajuan yang luar biasa, dari penjaga warnet lalu menjadi pemiliknya. “Yang saya beli adalah Prima Net dua di Jalan Borobudur. Saya beli dari bisnis IB. Jadi pernah kerja di situ lalu bisa membeli warnet,” kenang saya dengan senang.

Saat itu, warnet tersebut memang dijual murah. Andy, sang pemilik Prima Net, memiliki dua warnet, yaitu di Kayutangan (Prima Net 1) dan di Jalan Borobudur (Prima Net 2). Yang di Kayutangan dijual seharga Rp 2 miliar, sementara yang di Borobudur Rp 1 miliar.

Saya membeli Prima Net 2 sekitar tahun 2010. Setelah pembelian itu, ada rasa puas dan bangga di benak saya. Dulunya sebagai penjaga warnet, kini menjadi owner dari warnet tersebut, suatu pencapaian awal yang luar biasa dari beberapa percobaan usaha yang saya lakukan saat itu.

Jadi, dari waktu menjaga warnet hingga momentum menikah, saya mempelajari banyak hal dalam hidup dan di dunia bisnis. Ada sedikit kekhawatiran terutama setelah menikah, punya tanggung jawab menafkahi istri, dan jika punya anak bagaimana nanti dengan sekolah sang anak. Itu bayangan pikiran yang terus menghantui saya setiap hari.

Setelah bisnis IB, saya menjadi server pulsa. Saya harus belajar hal baru lagi yaitu bagaimana mendirikan server pulsa. Karena punya warnet, saya ingin memanfaatkan internet untuk menghasilkan tambahan maka saya juga belajar menjual properti atau biasa dikenal sebagai agen properti.

Sejak awal membuat agen properti hingga menjadi developer, saya tetap belajar dengan mengikuti pelatihan-pelatihan dan seminar pengembangan properti mulai dari Jakarta, Yogyakarta, Surabaya hingga di Malang sendiri.

Dalam perjalanan hidup saya, pelatihan yang sangat berkesan dan mengubah hidup saya adalah pelatihan dari Budi Candra yang berjudul “Cara Gila Jadi Pengusaha”. Kemudian yang membawanya ke jalan yang benar yaitu konsep perumahan syariah adalah Ustaz Syamsul Arifin.

Sementara dari perumahan yang dibangun juga saya perlu belajar banyak hal baru dengan mencoba menghadirkan konsep perumahan yang unik dan khas. Ada yang berkonsep Jawa, Kerajaan Majapahit, ada pula yang berkonsep Jepang. Untuk itu semua, perlu belajar hal-hal baru.

Semua ini membuat perumahan yang dihadirkan oleh Primaland memiliki nilai tambah dibanding perumahan lain di Malang. Misalnya, Puri Astagina rumah kos berkonsep Jawa, maka desain-desain dan kayu-kayu yang digunakan bercorak Jawa.

Atau misalnya, kos di Myrra Residence berkonsep khusus muslimah. Ini bisa untuk anak yang ingin kos tetapi takut dengan pergaulan bebas, lalu diadakan kawasan khusus wanita agar tidak ada campur dengan lawan jenis.

Di rumah kos ini, kalau ada tamu cowok harus di luar, tidak boleh masuk. Nilai-nilai inilah yang terus saya pelajari sebagai hal-hal baru.

Selain itu, saya juga belajar pengabdian yang lebih luas lagi. Saat ini pengabdian itu diberikan hanya untuk para karyawan di Primaland yang totalnya sekitar 170-an orang.

Maka, saya bertekad maju jadi dewan di Kota Malang agar pengabdian bisa mencapai masyarakat di se-Kecamatan Lowokwaru yang menjadi Dapil saya dalam pemilihan legislatif 2024. Begitulah saya, Rendra Masdrajad Safaat, mempelajari hal-hal baru untuk membuat inovasi-inovasi dan terobosan penting dalam hidup saya. Terpenting lagi adalah keberanian saya untuk keluar dari zona yang membuat saya stagnan.

Bersambung……

Yang belum membaca part sebelumnya boleh nggih dari Part 1: Sekapur Sirih, Beban Menjadi Tantangan