Menu ||

Menu X

Part 3 : Sekapur Sirih Resep Satu, Meyakini Sepenuh Hati

SekapurSirihResepSatuMenyakiniSepenuhHati

Keyakinan merupakan kunci utama dalam setiap langkah hidup saya. Sejak kecil, saya telah dibekali dengan keyakinan yang kuat oleh keluarga saya di Bondowoso. Saya tinggal bersama ibu saya, Dinah Sukowati, yang menjadi guru di SDN Dabasah 6. Namun, saya memilih untuk bersekolah di SDN Dabasah 1 agar lebih mandiri dan tidak selalu bergantung pada ibu.

Masa kecil saya dipenuhi dengan berbagai pengalaman yang mengajarkan kemandirian dan juga kerja keras. Setiap pagi, saya membantu ibu menyiapkan dagangan seperti es lilin dan nasi goreng yang dijual di kantin sekolah. Honor ibu sebagai guru sangat kecil, hanya Rp 250 ribu per bulan, sehingga saya memutuskan untuk membantu ekonomi keluarga dengan senang hati. Saya membuat es lilin, memanen pepaya di depan rumah untuk dijadikan manisan, serta membantu membungkus dan menjual makanan.

Sarapan saya sehari-hari adalah kecap dengan tahu atau tempe, menu yang membuat saya bosan, tetapi itulah yang ada. Untuk bisa menikmati makanan yang lebih enak, saya punya trik sendiri. Saya sering menagih uang les dari siswa yang belajar pada ibu, lalu membeli ayam goreng dengan uang tersebut.

Saat kecil, saya juga punya teman bernama Kukuh, anak seorang pengusaha. Kukuh sering memberi saya uang untuk jajan, dan pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam pada saya tentang enaknya memiliki banyak uang. Hal ini memotivasi saya untuk bercita-cita menjadi pengusaha daripada guru, meskipun ibu menginginkan saya mengikuti jejaknya.

Baca juga artikel lainya tentang Tantangan Dan Peluang Anak Muda Dalam Dunia Kerja

Kenangan lainnya adalah momen Agustusan ketika saya diminta untuk menyanyikan lagu Roma Irama. Saya didandani ala Roma Irama dan tampil di hadapan banyak orang. Ini menjadi pengalaman yang menyenangkan dan mengesankan bagi saya.

Di sekolah, saya punya cara unik untuk menghindari kemarahan ibu atas nilai-nilai ujian saya. Jika nilai saya di bawah 60, saya meminta tanda tangan ibu saat dia mengajar di kelas. Namun, jika nilai saya 100, saya akan meminta tanda tangannya di rumah. Cara ini cukup berhasil membuat saya terhindar dari dimarahi.

Keluarga kami memang tidak pernah marah-marah. Ayah saya tidak suka ada kemarahan di rumah. Jika ibu ingin menasihati saya, dia mengajak saya naik becak dan memberikan nasihat di perjalanan. Tetapi ketika sampai di lampu merah, saya selalu meminta ibu untuk berhenti bicara karena di lampu merah semua aktivitas harus berhenti. Ini selalu berhasil membuat ibu saya tidak jadi marah.

Dari semua pengalaman ini, saya belajar bahwa keyakinan dan kerja keras adalah kunci untuk meraih mimpi dan cita-cita besar. Keyakinan inilah yang terus memotivasi saya untuk terus berjuang dalam hidup. Begitulah kisah saya yang bermula dari kota kecil Bondowoso.

Bersambung…

baca juga artikel sebelumnya tentan Part 2: Sekapur Sirih, Meniti Jalan Sukses Dan Memberi Manfaat

Yang belum membaca part sebelumnya boleh nggih dari Part 1: Sekapur Sirih, Beban Menjadi Tantangan