MALANG – Setiap momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia selalu menjadi ajang refleksi bagi saya. Dari berbagai fenomena yang muncul di masyarakat, mulai dari lomba-lomba khas 17 Agustus, hiasan gapura merah putih, hingga beragam kreativitas yang identik dengan nuansa Agustus Core, saya melihat semangat kebangsaan hadir dalam wujud yang berbeda-beda. Kreativitas itu tetap penting untuk dibarengi pemaknaan yang mendalam terhadap perjuangan para pahlawan.
Saya optimistis cita-cita Indonesia Emas 2045, yang merupakan program Presiden Prabowo Subianto, dapat terwujud melalui kolaborasi seluruh elemen bangsa. Semangat itu saya yakini bukan hanya milik pemerintah, tetapi juga harus tumbuh di tengah masyarakat.
Sebagai alumni SMK Telkom Malang, saya memiliki pengalaman berharga yang membentuk pandangan tersebut. Tahun 1998, saya mendapat kehormatan menjadi anggota Paskibraka Kota Madya Malang. Proses seleksi dimulai dari sekolah masing-masing, di mana setiap SMA/K memilih 2-5 perwakilan terbaik.
Baca Juga: Dukung Penataan Jalan Suhat yang Ramah Lingkungan dan Bebas Banjir
Tahap awal berlangsung di sekolah, lalu para perwakilan dikumpulkan di Lapangan Rampal untuk menjalani seleksi akhir. Dari proses itu, saya lolos bersama lima rekan lainnya dan terpilih mewakili SMK Telkom bertugas di Balai Kota Malang.
Pengalaman itu mengajarkan arti disiplin, kerja sama, dan semangat kebangsaan. Saya memandang peringatan 17 Agustus sebagai momen tepat bagi generasi muda untuk menguatkan tekad dan mengambil peran aktif demi terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Meski saat ini masyarakat menghadapi banyak tantangan, saya percaya kesulitan justru dapat menjadi batu loncatan menuju kemajuan, selama semangat tidak pernah padam. Seperti perjalanan saya di tahun 1998, semangat, kerja keras, dan optimisme generasi muda akan menjadi kunci bagi Indonesia untuk menjadi negara yang maju, adil, dan makmur.
Baca Juga: Penurunan Pengunjung Pasar Oro-Oro Dowo Harus Jadi Evaluasi Serius Sistem Satu Arah