Menu ||

Menu X

Pemanfaatan Energi Terbarukan untuk Masa Depan Kota Malang

Rendra Energy Terbarukan

Oleh: Rendra Masdrajad Safaat 

Sebagai kota yang terus berkembang, Malang dihadapkan pada tantangan besar dalam memastikan keberlanjutan energi untuk masa depan. Ketergantungan pada energi fosil tak hanya berisiko terhadap kelangkaan sumber daya, tetapi juga memberi dampak signifikan terhadap lingkungan.

Karena itu, sudah saatnya kita beralih dan berinvestasi pada pemanfaatan energi terbarukan sebagai jalan menuju kota yang mandiri, hijau, dan berkelanjutan.

Salah satu potensi besar yang bisa kita maksimalkan adalah energi surya. Kota Malang memiliki tingkat radiasi sinar matahari yang cukup tinggi sepanjang tahun, sehingga pemanfaatan panel surya di atap rumah, sekolah, kantor pemerintahan, maupun fasilitas umum dapat menjadi solusi konkret. Ini bukan sekadar mimpi. Beberapa kota di Indonesia bahkan sudah mulai menerapkannya, dan kita di Malang tidak boleh tertinggal.

Selain itu, energi biomassa juga sangat potensial, terutama mengingat banyaknya aktivitas pertanian dan perkebunan di kawasan sekitar Malang Raya.

Limbah organik dari sektor ini dapat diolah menjadi bahan bakar alternatif, bahkan listrik, yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga ekonomis. Bila dikelola secara sistematis, ini bisa menjadi sumber energi lokal yang memberdayakan masyarakat desa dan pelaku UMKM energi.

Keuntungan dari energi terbarukan bukan hanya aspek ekologis, tetapi juga aspek ekonomi dan sosial. Infrastruktur energi bersih membuka peluang investasi baru di sektor teknologi hijau, menciptakan lapangan kerja lokal, dan mendorong lahirnya inovator muda di bidang energi.

Pemerintah Kota Malang dapat mempertimbangkan kebijakan insentif bagi rumah tangga, komunitas, atau pelaku usaha yang mulai beralih ke teknologi ramah lingkungan seperti panel surya atau biodigester.

Namun, agar transisi ini berhasil, dibutuhkan sinergi semua pihak. Pemerintah harus hadir sebagai regulator dan fasilitator, mendorong kebijakan afirmatif dan anggaran yang mendukung energi baru terbarukan. Akademisi dan kampus bisa berperan dalam riset dan edukasi.

Komunitas lokal bisa menginisiasi gerakan literasi energi. Sementara itu, pelaku usaha dan sektor swasta perlu diajak sebagai mitra dalam pengembangan dan implementasi solusi energi yang terjangkau dan mudah diakses masyarakat.

Sebagai anggota DPRD Kota Malang Komisi C, saya percaya bahwa transisi energi di Malang bukan sekadar pilihan teknis, melainkan kebutuhan strategis. Inilah langkah konkret kita dalam menjawab isu krisis iklim sekaligus menyiapkan kota ini menghadapi masa depan dengan lebih tangguh.

Mari kita mulai dari sekarang dengan langkah kecil, keputusan bijak, dan komitmen kolektif untuk menjadikan Kota Malang sebagai percontohan kota hijau yang mandiri secara energi dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.

Baca juga : Inovasi dan Gerakan Bersama Menuju Malang Bebas Plastik