Saya memulai perjalanan karir politik ini dengan niat yang tulus untuk belajar dan berkontribusi dari nol. Dalam kontestasi kali ini, saya tidak memiliki ambisi yang muluk-muluk. Bagi saya, mengikuti arus yang sudah di gariskan oleh Allah SWT adalah yang terbaik. Kalaupun nanti saya tidak terpilih sebagai wakil rakyat, saya sudah siap menerima apa pun hasilnya sebagai bagian dari risiko perjuangan. Saya terinspirasi oleh kata-kata Sutan Syahrir, “Hidup yang tidak pernah dipertaruhkan, tidak akan dimenangkan.”
Namun, jika hasilnya positif dan saya memang di percaya oleh masyarakat untuk menjadi wakil rakyat, saya berjanji akan memikul tanggung jawab itu dengan sungguh-sungguh. Dengan bergabung dalam Koalisi Perubahan, saya percaya bahwa terciptanya peradaban yang lebih maju dan islami sudah menanti di masa depan. Sebagai calon legislatif (caleg), saya mengusung jargon “Maju Kotanya, Sejahtera Rakyatnya.” Hal ini karena saya melihat Kota Malang sebagai Kota Pendidikan, yang sayangnya masih tertinggal di bandingkan dengan kota-kota lain seperti Surabaya, Yogyakarta, hingga Bandung.
baca juga part sebelumnya Part 37: Sekapur Sirih Resep Kedelapan, Manfaat yang Eksis Manfaat yang Dirintis
Menurut saya, dalam membangun Kota Malang, kita tidak boleh hanya fokus pada infrastruktur saja, tetapi juga harus di barengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Selama ini, saya melihat bahwa perguruan tinggi negeri di Kota Malang justru banyak di nikmati oleh orang-orang luar kota di bandingkan dengan anak-anak Kota Malang sendiri. Padahal, dengan peningkatan kualitas SDM, kesejahteraan masyarakat Kota Malang akan lebih terdorong.
Saya tidak sedang mengobral janji muluk seperti caleg-caleg lainnya. Niat saya murni hanya untuk menebar kebaikan kepada sesama, seperti yang telah saya lakukan saat merintis dan membangun Primaland menjadi entitas usaha yang membawa manfaat bagi kehidupan sekitarnya. Saya percaya bahwa dengan niat yang baik dan kerja keras, kita bisa bersama-sama mewujudkan Malang yang lebih maju dan sejahtera.
Yang belum membaca part sebelumnya boleh nggih dari Part 1: Sekapur Sirih, Beban Menjadi Tantangan