Star Property, yang merupakan cikal bakal dari Primaland, dimulai dengan lima anggota tim, termasuk mantan karyawan warnet yang saya ajak bergabung dalam proyek perumahan dan tanah. Sebelum saya memutuskan untuk hijrah, saya juga mengembangkan rumah kos di Kertorharjo, Kota Malang. Rumah tersebut dibeli dan diubah menjadi rumah kos dengan 25 kamar. “Saya pikir, dengan memiliki kos ini, saya sudah punya pasif income,” kenang saya.
Sembari mengembangkan Star Property, saya aktif mengikuti pelatihan-pelatihan properti di berbagai tempat. Dalam salah satu pelatihan, pelatih menyarankan agar saya, yang masih muda, sebaiknya tidak hanya memiliki kos, tetapi juga memulai langkah sebagai developer atau pengusaha. Mengikuti saran tersebut, saya memutuskan untuk menjual rumah kos dan menggunakan uangnya sebagai DP untuk membeli tanah yang lebih luas di kawasan Sunankalijaga, Kota Malang, seharga 2 hingga 3 miliar rupiah.
Langkah berani ini menandai awal saya sebagai developer. Proyek pertama saya terletak di kawasan Sunankalijaga dan mencakup 6 rumah toko dan 20 rumah kos. Saat itu, proyek ini masih berada dalam tahap transisi dari konsep konvensional ke syariah. Meskipun demikian, semua ruko dan rumah kos tersebut terjual habis dalam waktu satu tahun.
Proyek ketiga saya, yaitu The Prima Tunggulwulung, menandai di mulainya konsep hunian Islami yang lebih konsisten. Terletak di jalan Akordion, Kota Malang, proyek ini mencakup area seluas 2,2 hektare. Saat memutuskan untuk tidak menggunakan bank dalam proses penjualannya, tim marketing sempat khawatir karena menjual tanpa bank dianggap lebih sulit. “Wes bismillah, kita rida, kita taat aturan dll, insya Allah aman,” ujar saya, menegaskan keyakinan dalam keputusan tersebut.
Baca juga part sebelumnya Part 28: Sekapur Sirih Resep Kelima, Titik Balik dan Hijrah: Perjalanan Saya dalam Mewujudkan Impian
Respons pasar terhadap hunian Islami ternyata sangat positif. Banyak pembeli yang datang dan menunjukkan minat. Momen dan positioning yang tepat saat meluncurkan hunian Islami mungkin menjadi faktor utama keberhasilan ini. Selanjutnya, saya mengembangkan perumahan lainnya, seperti Myrra Residence yang di ambil dari nama istri saya, terletak di kawasan Vinolia, Lowokwaru. Adina Residence, di namakan sesuai nama ibu saya, berlokasi di sekitar jalan Akordion. Selain itu, saya juga meluncurkan Azzahra Towa House, Azzahra Residence, dan proyek-proyek lainnya.
Sebagai pengembang perumahan syariah terbaik di Malang, saya menghadapi beberapa tantangan ketika beralih dari transaksi konvensional ke syariah. Tantangan utama adalah menjaga cash flow karena tidak lagi menggunakan bank. Para pembeli harus membayar secara langsung ke Primaland. Pembayaran harus di lakukan secara tunai, atau jika tidak, dalam jangka waktu satu hingga dua tahun setelah rumah berdiri, pembayaran harus lunas. DP yang di butuhkan juga cukup besar, yaitu 30 hingga 35 persen. “Namun, ketika kita memiliki konsep ini, kita bisa meningkatkan valuenya dan alhamdulillah respons pasar bagus,” kata saya.
Transaksi syariah secara batin terasa lebih tenang karena tidak ada hutang-hutang. Ketika masih menggunakan konsep konvensional, saya sering di hadapkan pada masalah hutang. Misalnya, saya memiliki kartu kredit dengan limit saldo yang sangat besar, yang membuat saya merasa tertekan. Setelah hijrah, semua aset saya jual untuk melunasi hutang, dan saya tidak perlu lagi memikirkan beban utang tersebut. Kini, saya dapat fokus pada pengembangan perumahan syariah yang saya percayai membawa keberkahan dan nilai tambah bagi semua pihak yang terlibat.
Yang belum membaca part sebelumnya boleh nggih dari Part 1: Sekapur Sirih, Beban Menjadi Tantangan