Menurut ibu, masa kecil saya dipenuhi dengan tindakan kebaikan dan kepedulian terhadap orang lain. Sejak duduk di bangku taman kanak-kanak, saya sudah suka berbagi kepada teman. Saya selalu berusaha menolong dan berbagi, bahkan jika itu berarti saya harus mengorbankan kepentingan pribadi.
Ibu menceritakan bagaimana saya sering kali membagikan jajan saya kepada teman-teman, meskipun terkadang saya sendiri tidak kebagian. Jika hal ini terjadi, saya akan pulang dan meminta jajan lagi dari ibu untuk diberikan kembali kepada teman-teman saya. Misalnya, jika saya memiliki lima jajan dan ada lima teman, saya akan membagikannya dan kemudian pulang meminta jajan tambahan sambil mengatakan bahwa saya tidak kebagian.
Memasuki bangku Sekolah Dasar, saya terus menerapkan sikap altruistik saya. Saya sering membantu kepala sekolah yang saat itu sering memperbaiki perabotan sekolah seperti bangku dan kursi yang rusak.
Baca juga part sebelumnya Part 23: Sekapur Sirih Resep Keempat, Fanatik Jadi Orang Baik
Saya dengan sukarela datang untuk membantu kepala sekolah dalam tugas-tugas tersebut. Kebetulan, rumah ibu berada tepat di sebelah sekolah tempat saya belajar, sehingga saya dapat dengan mudah terlibat dalam kegiatan-kegiatan ini.
Selain itu, saya juga tidak segan-segan untuk membantu pedagang sepuh yang berjualan jajanan di sekitar sekolah. Setiap pagi, saya membantu menata jajan yang dijual pedagang tersebut, dan saat pulang siang hari, saya kembali membantu mengemas dagangannya. Bagi saya, tindakan kecil seperti ini adalah cara untuk menunjukkan kepedulian dan rasa terima kasih.
Sejak kelas dua Sekolah Dasar, ibu Dina mengajari saya cara membungkus kerupuk, es teh, es lilin, dan agar-agar yang dijual di kantin sekolah.
Saya bersama adik saya, Deny, pagi-pagi sudah membantu menata barang-barang tersebut. Saya menaruh es lilin dan makanan lainnya di koperasi sekolah, membantu menyiapkan segala sesuatu agar proses penjualan berjalan lancar. Kegiatan ini terus saya lakukan hingga saya duduk di kelas tiga Sekolah Menengah Pertama di Bondowoso.
Pengalaman-pengalaman ini membentuk karakter saya dan mengajarkan pentingnya berbagi serta membantu orang lain. Meski dari masa kecil hingga saat ini, sikap tersebut tetap melekat dalam diri saya. Saya percaya bahwa berbuat baik tidak hanya memberikan dampak positif bagi orang lain tetapi juga memperkaya diri sendiri dengan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi.
Yang belum membaca part sebelumnya boleh nggih dari Part 1: Sekapur Sirih, Beban Menjadi Tantangan