Menu ||

Menu X

Part 21 : Sekapur Sirih Resep Ketiga, Tidak Kuliah, Malah Memilih Menikah

Tidak Kuliah Malah Memilih Menikah

Sejak awal, ibu saya selalu memiliki harapan besar agar saya bisa melanjutkan studi hingga ke jenjang perguruan tinggi. Beliau percaya bahwa pendidikan adalah cara yang paling sederhana dan efektif untuk mengubah nasib dan martabat, baik bagi keluarga maupun masyarakat secara luas. Dengan keyakinan itulah saya sempat menjalani kuliah di salah satu kampus di Malang. Namun, saya hanya bertahan sampai semester dua karena akhirnya saya memutuskan untuk berhenti dan memilih menikah.

Sejujurnya, sejak dulu saya memang memiliki keinginan untuk menikah muda. Saya ingin, ketika anak-anak saya sudah besar nanti, saya masih cukup muda untuk bisa terlihat seperti kakak beradik dengan mereka. Di tahun 2003, pada usia 21 tahun, saya akhirnya mewujudkan keinginan tersebut dan menikah.

Ketika saya memutuskan untuk menikah, saya membiayai seluruh pernikahan itu sendiri. Saat pertama kali meminta izin kepada ibu saya, beliau sebenarnya tidak sepenuhnya setuju. Ibu berharap saya bisa menyelesaikan kuliah terlebih dahulu sebelum menikah. Namun, menikah sudah menjadi keputusan saya, dan saya siap menanggung segala konsekuensinya, termasuk soal biaya. Saat itu, saya tidak langsung mengutarakan niat saya kepada ibu, melainkan pertama kali saya sampaikan kepada paman saya, Suhadi. Mungkin karena saya merasa takut, mengingat ibu pernah berkata bahwa saya baru boleh menikah setelah kuliah selesai.

Baca juga part sebelumnya Part 20 : Sekapur Sirih Resep ketiga, Kejutan Mobil untuk Sang Ibu

Ibu saya bahkan sempat bercerita kepada guru agama saya mengenai niat saya untuk menikah. Ibu merasa sedikit kecewa karena beliau sangat berharap saya bisa menjadi seorang sarjana. Namun, guru agama tersebut memberikan nasihat kepada ibu bahwa niat saya untuk menikah adalah niat yang baik. Menurut beliau, ini adalah suatu keberuntungan, karena lebih baik menikah saat sudah siap dan dekat dengan jodoh, daripada menunda-nunda. Apalagi, saya dianggap sudah cukup mampu, baik secara mental maupun etika. Daripada saya menikah secara diam-diam dan tanpa restu orang tua, guru agama itu menyarankan ibu untuk merestui pernikahan saya. Akhirnya, ibu saya memberikan restunya.

Ketika hari pernikahan tiba, saya membawa tiga amplop berisi uang. Amplop pertama saya bawa ke Bondowoso, amplop kedua untuk biaya keberangkatan keluarga ke Malang dan kebutuhan pernikahan lainnya, dan amplop ketiga untuk diberikan kepada mertua saya. Ada satu hal menarik yang saya ingat dari pernikahan itu. Biasanya, tamu-tamu yang datang memberikan sumbangan ke dalam satu kotak yang sama. Namun, kali ini berbeda. Beberapa tamu memberikan sumbangan langsung kepada mertua saya, dan yang lain, terutama teman-teman saya, lebih memilih memberikan sumbangan langsung kepada saya. Sebenarnya, ini adalah trik kecil yang saya atur agar bisa mengumpulkan uang dari teman-teman untuk keperluan pribadi saya.

Begitulah cerita saya tentang keputusan untuk menikah muda, meski harus meninggalkan bangku kuliah. Mungkin bagi sebagian orang ini adalah pilihan yang tidak biasa, tetapi bagi saya, ini adalah langkah yang sudah saya pikirkan matang-matang.

Yang belum membaca part sebelumnya boleh nggih dari Part 1: Sekapur Sirih, Beban Menjadi Tantangan