Menjadi seorang polisi bukanlah sesuatu yang pernah kubayangkan, namun itulah yang terjadi pada masa SMA-ku. Ibu memintaku untuk mendaftar menjadi polisi, dan meskipun hatiku tidak sepenuhnya setuju, aku tidak memiliki keberanian untuk menolak.
Ternyata, ide ini datang dari pamanku, Suhadi, yang sangat berharap aku bisa menjadi bagian dari kepolisian. Ibu sebenarnya juga tidak sepenuhnya setuju dengan rencana ini, tetapi ketika paman yang berbicara, semuanya menjadi keputusan yang sulit ditolak.
Pada waktu itu, aku masih kelas 3 di STM Telkom. Dengan patuh, aku mengikuti proses yang dimulai dengan meminta surat keterangan.
Dina, teman baikku, ikut menemani dan mendukungku selama seminggu di Malang, tempat tes berlangsung. Tes pertama adalah baris-berbaris, sesuatu yang sebenarnya tidak asing bagiku karena pengalaman sebagai pasukan paskibraka di Malang. Aku merasa percaya diri dan berhasil lulus tes tersebut. Tinggi badanku juga memenuhi syarat, sebuah keberhasilan kecil yang membuat perasaanku campur aduk.
Baca juga part sebelumnya Part 18 : Sekapur Sirih Resep Ketiga, Selalu Izin sang Ibu
Namun, ada satu hal yang menjadi penghalangku: penglihatanku. Meskipun aku berhasil melewati berbagai tahapan tes lainnya, masalah pada penglihatanku menjadi alasan utama yang membuatku tidak bisa melanjutkan proses seleksi. Kecewa? Mungkin.
Namun, di balik itu semua, ada rasa syukur yang tidak bisa kuabaikan. Sejumlah uang yang tadinya disiapkan untuk biaya masuk polisi akhirnya bisa digunakan untuk membeli sepeda motor, sesuatu yang sangat aku inginkan.
Pengalaman ini, meski singkat, memberikan pelajaran berharga. Kadang kita harus mengikuti arus yang tidak kita inginkan, namun di balik setiap kejadian, selalu ada hikmah yang bisa diambil.
Aku bersyukur karena pada akhirnya aku bisa mengejar hal-hal lain yang lebih sesuai dengan minat dan kemampuanku. Meski tidak menjadi polisi, perjalanan ini tetap menjadi bagian dari kisah hidupku yang tak terlupakan.
Yang belum membaca part sebelumnya boleh nggih dari Part 1: Sekapur Sirih, Beban Menjadi Tantangan